Datuk Tak Membenci, Hanya Sedang Terluka

Keterangan Gambar: Potret cucu tercinta yang selalu hidup dalam doa dan kasih sayang Datuk di malam penuh renungan.

FAKTANOW.pro, Pringsewu - Malam Jumat yang seharusnya menjadi salah satu malam paling membahagiakan dalam perjalanan hidup keluarga, justru berubah menjadi malam penuh renungan bagi diri saya pribadi. Di saat keluarga berkumpul menyambut aqiqah cucu pertama yang begitu saya sayangi, saya memilih berada dalam diam dan kesunyian. Bukan karena tidak cinta, bukan pula karena enggan hadir, melainkan karena ada hati yang sedang mencoba memahami banyak hal yang perlahan berubah dalam kehidupan rumah tangga.

Sebagai seorang datuk, tentu saya menyimpan rasa bahagia atas lahirnya cucu pertama dalam keluarga. Kehadiran seorang cucu adalah anugerah besar dari Allah SWT, cahaya baru yang membawa harapan, doa, dan kebahagiaan bagi seluruh keluarga. Namun di balik rasa syukur itu, tersimpan pula kesedihan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebab, acara aqiqah yang seharusnya menjadi momen kebersamaan terasa berjalan begitu cepat tanpa adanya ruang musyawarah dan mufakat sebagaimana yang dahulu selalu dijaga dalam keluarga.

Saya memahami bahwa zaman telah berubah. Banyak hal kini berjalan serba cepat. Bahkan keputusan penting dalam keluarga terkadang diambil tanpa lagi duduk bersama untuk saling mendengar pendapat satu sama lain. Kata “super cepat” mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi seorang kepala keluarga, ada rasa kehilangan ketika musyawarah perlahan tidak lagi menjadi bagian utama dalam setiap langkah kehidupan rumah tangga.

Bagi saya, musyawarah bukan sekadar meminta izin atau menentukan keputusan. Musyawarah adalah cara menjaga penghargaan di antara anggota keluarga. Sebab dalam setiap kebersamaan, ada hati yang ingin dihargai keberadaannya, ada suara yang ingin didengar, dan ada perasaan yang ingin tetap dianggap penting.

Malam itu, ketika acara aqiqah cucu pertama berlangsung, saya hanya mampu memandang dari kejauhan sambil memanjatkan doa-doa di dalam hati. Ketidakhadiran saya bukanlah bentuk kebencian ataupun penolakan terhadap keluarga sendiri. Justru sebaliknya, karena rasa sayang itulah saya memilih diam agar tidak memperbesar luka yang sedang tumbuh di dalam batin.

Sebagai seorang datuk, hati ini tentu merasa sedih ketika perlahan tidak lagi dihargai sebagaimana mestinya oleh istri maupun anak sendiri. Namun saya memilih menahan segala kecewa dalam diam. Sebab bagi saya, pertengkaran bukan jalan terbaik untuk menjaga keluarga tetap utuh. Biarlah rasa sakit itu menjadi pelajaran hidup, sementara doa tetap saya panjatkan untuk anak, cucu, dan keluarga yang saya cintai.

Kepada cucuku tercinta, ketahuilah bahwa Datuk selalu menyayangimu, meski langkah kaki ini tidak hadir di malam aqiqahmu. Doa Datuk tetap sampai untukmu dalam setiap sujud dan malam panjang yang sunyi. Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang sehat, berakhlak baik, berhati lembut, menghormati kedua orang tua, serta menjadi penyejuk dalam keluarga.

Datuk juga selalu berdoa agar Allah SWT memanjangkan umurmu, memberikan kesehatan dalam setiap langkah hidupmu, menjauhkanmu dari segala masalah dan kesedihan, serta memberikan kecukupan sandang, pangan, dan papan di sepanjang perjalanan hidupmu. Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, taat kepada agama, serta kelak menjadi perempuan yang setia, patuh, dan penuh kasih kepada suami dan keluargamu.

Datuk ingin kelak engkau mengerti bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam keramaian. Terkadang, cinta terbesar justru lahir dari doa-doa sunyi yang dipanjatkan seseorang dalam kesendirian. Dan malam itu, meski Datuk tidak duduk bersama para tamu undangan, hati Datuk tetap hadir memelukmu melalui doa yang tulus.

“Doa Datuk selalu menyertaimu, meski langkah ini berjalan dalam sunyi.”

“Kasih sayang sejati tidak selalu terlihat dalam keramaian, tetapi hidup dalam doa-doa yang diam.”

“Rumah yang kuat bukan dibangun oleh kemewahan acara, melainkan oleh hati yang saling menghargai.”

Semoga langkah hidupmu selalu dipenuhi keberkahan. Jadilah cucu yang kelak mampu menyatukan hati keluarga, bukan memisahkan. Jadilah pribadi yang memahami arti menghargai orang lain sebelum mengambil keputusan, karena keluarga yang kuat dibangun dari komunikasi dan saling menghormati.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini hanyalah catatan hati seorang datuk yang sedang belajar menerima perubahan zaman, sekaligus mengingatkan bahwa secepat apa pun kehidupan berjalan, nilai musyawarah dan mufakat seharusnya tetap dijaga dalam keluarga.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukan hanya tentang meriahnya sebuah acara, melainkan tentang hadirnya ketenangan hati, penghormatan, dan rasa saling memiliki di antara sesama keluarga. Karena keluarga yang utuh bukan diukur dari banyaknya perayaan, melainkan dari kemampuan menjaga hati satu sama lain agar tetap hidup dalam kasih sayang.

Penulis: (iskandar).