“Ketika Tidak Lagi Dianggap, Namun Tuhan Masih Memberi Kehidupan”
FAKTANOW.pro, Pringsewu -Dalam perjalanan hidup, tidak semua manusia akan selalu berada di tempat yang dihargai. Ada masa ketika seseorang begitu dibutuhkan, dicari, bahkan dianggap penting oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Namun waktu juga mengajarkan kenyataan pahit, bahwa penghargaan manusia sering berubah seiring keadaan. Ketika tenaga mulai lemah, ketika materi tak lagi berlebih, atau ketika suara tidak lagi dianggap penting, perlahan seseorang bisa merasa asing di tengah keluarganya sendiri.
Sebagai seorang lelaki, hidup bukan hanya soal bertahan mencari nafkah. Hidup juga tentang memikul luka yang tidak selalu terlihat oleh mata manusia. Ada kesedihan yang dipendam dalam diam, ada kecewa yang disimpan dalam senyum, dan ada air mata yang jatuh tanpa seorang pun mengetahui.
Kadang seseorang merasa seperti telah menjalani kehidupan berkali-kali dalam zaman yang berbeda. Bukan sekadar tentang lahir kembali, melainkan tentang perubahan hidup yang begitu keras hingga membuat hati merasa pernah melewati berbagai dunia. Dari masa susah menuju senang, lalu jatuh kembali dalam kesepian. Dari dipercaya, kemudian perlahan dilupakan. Semua itu menjadi perjalanan panjang yang menguji kekuatan jiwa manusia.
Namun di balik rasa tidak dianggap oleh keluarga, masih ada satu hal yang patut disyukuri: Tuhan masih memberikan napas kehidupan. Selama jantung masih berdetak, selama tubuh masih sehat untuk berdiri, maka harapan belum benar-benar hilang. Sebab manusia boleh menjauh, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Dalam kehidupan modern saat ini, banyak orang berlomba mencari pengakuan. Ada yang dihormati karena jabatan, ada yang dipandang karena kekayaan, dan ada pula yang hanya dihargai ketika masih bisa memberi keuntungan. Padahal nilai seorang manusia tidak seharusnya diukur dari apa yang dimilikinya, melainkan dari ketulusan hati dan perjuangannya menjalani hidup.
Kode Etik Jurnalistik mengajarkan pentingnya menyampaikan kebenaran, menjaga nurani, serta menghormati nilai kemanusiaan. Dalam sudut pandang kehidupan, nilai itu juga sangat penting diterapkan dalam keluarga. Sebab keluarga seharusnya menjadi tempat pertama untuk saling menghargai, bukan tempat paling awal seseorang merasakan diabaikan.
Tidak sedikit orang tua yang akhirnya hidup dalam kesendirian setelah anak-anaknya dewasa. Tidak sedikit pula saudara yang mulai menjauh ketika urusan dunia lebih diutamakan dibanding hubungan darah. Keadaan seperti ini menjadi renungan bahwa dunia memang terus berubah. Kasih sayang yang dulu hangat, terkadang perlahan dingin karena kepentingan.
Tetapi hidup tidak boleh berhenti hanya karena kecewa. Lelaki sejati bukanlah mereka yang tidak pernah terluka, melainkan mereka yang tetap mampu berdiri walau berkali-kali dijatuhkan keadaan. Kesabaran menjadi benteng utama dalam menghadapi kerasnya perjalanan hidup.
Ada kalanya Tuhan memperlihatkan siapa yang benar-benar peduli ketika seseorang berada di titik paling rendah. Dari situlah manusia belajar bahwa tidak semua yang dekat akan setia, dan tidak semua yang jauh berarti melupakan. Hidup akhirnya mengajarkan bahwa ketenangan tidak selalu datang dari keramaian keluarga, tetapi dari hati yang mampu menerima kenyataan dengan ikhlas.
Perjalanan hidup juga memberi pelajaran bahwa manusia hanyalah tamu sementara di dunia. Jabatan, kekayaan, bahkan hubungan yang terlihat kuat sekalipun dapat berubah dalam sekejap. Karena itu, terlalu menggantungkan kebahagiaan kepada manusia hanya akan menambah luka ketika harapan tidak sesuai kenyataan.
Lebih baik memperkuat hubungan dengan Tuhan. Sebab hanya kepada-Nya tempat terbaik untuk mengadu tanpa takut dihakimi. Ketika manusia menutup pintu, Tuhan masih membuka jalan. Ketika dunia terasa gelap, Tuhan masih memberi cahaya lewat kesehatan, umur panjang, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Mungkin hari ini seseorang merasa tidak lagi digunakan oleh keluarga. Merasa sendiri dalam keramaian. Merasa seperti hidup hanya menjadi pelengkap yang tak lagi dianggap penting. Namun jangan pernah menganggap diri tidak berharga. Sebab setiap manusia memiliki nilai di mata Tuhan.
Selama masih mampu berjalan, masih mampu berpikir, dan masih mampu berdoa, maka kehidupan belum selesai. Luka hidup bukan akhir dari segalanya. Justru dari luka itulah manusia belajar menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih memahami arti ketulusan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang meninggalkan kita, tetapi tentang bagaimana kita tetap bertahan tanpa kehilangan hati nurani. Tetap menjadi manusia baik walau pernah disakiti. Tetap bersyukur walau pernah dilupakan.
Karena sesungguhnya, orang yang paling kuat bukan yang selalu ditemani banyak orang, melainkan mereka yang tetap mampu tersenyum dan bersyukur meski berjalan sendirian bersama Tuhan.
Penulis: (Iskandar).