Drainase Proyek Rp24 Miliar Dipertanyakan

Jurnalis FAKTANOW.pro mendokumentasikan pekerjaan pasangan batu belah drainase proyek jalan Pringsewu.

FaktaNow.pro, Lampung  -- 
Kualitas pekerjaan pasangan batu belah drainase pada proyek Preservasi Jalan Ruas Kalirejo–Pringsewu (Link 033) di Kabupaten Pringsewu menjadi sorotan setelah Tim Jurnalis media ini menemukan sejumlah kondisi lapangan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pihak pengawas maupun instansi terkait.

Temuan tersebut diperoleh saat Tim Jurnalis FaktaNow.pro melakukan peninjauan langsung ke lokasi pekerjaan pada Kamis (4/6/2026). Dari hasil observasi lapangan, sejumlah titik pekerjaan drainase pasangan batu belah terlihat masih dalam proses pengerjaan.

Berdasarkan papan informasi kegiatan yang terpasang di lokasi, proyek tersebut merupakan pekerjaan Preservasi Jalan Ruas Kalirejo–Pringsewu (Link 033) Kabupaten Pringsewu (Pinjaman Daerah).

Dalam papan proyek tercantum Nomor Kontrak 01/KTR/PPK-JLN.1/RKN-033/V.03/IV/2026, tertanggal 1 April 2026, dengan nilai kontrak sebesar Rp23.978.153.000.

Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Bumi Lampung Persada KSO PT Nacita Karya Utama, dengan konsultan pengawas CV Mitra Paxi, waktu pelaksanaan 210 hari kalender, serta bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026.

Phota Papan nama Proyek. Dic. FaktaNow.pro.

Saat melakukan pemantauan di lokasi, Tim media ini mendapati sejumlah pasangan batu belah drainase yang telah terpasang di sepanjang area pekerjaan. Namun dari pengamatan visual, pada beberapa bagian pasangan batu terlihat langsung ditempatkan di atas dasar galian tanah.

Pada titik yang terdokumentasi, tidak tampak adanya hamparan pasir alas atau bedding yang lazim digunakan sebagai lapisan perata dan penstabil sebelum pemasangan pasangan batu dilakukan. Selain itu, keberadaan batu tanam atau batu pengunci yang umumnya berfungsi memperkuat ikatan struktur juga tidak terlihat secara jelas pada beberapa bagian pekerjaan yang terpantau.

Susunan batu pada sejumlah titik juga tampak belum membentuk pola penguncian yang rapat. Masih terlihat celah antar batu yang relatif terbuka, sementara adukan mortar pada beberapa bagian belum tampak mengisi seluruh rongga pasangan secara merata.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai metode pelaksanaan pekerjaan yang diterapkan di lapangan. Pasalnya, pada konstruksi drainase pasangan batu belah, kualitas pekerjaan sangat bergantung pada kekuatan ikatan antar batu, kepadatan pasangan, serta mutu mortar yang digunakan sebagai pengikat.

Sejumlah praktisi konstruksi menjelaskan bahwa pekerjaan drainase pasangan batu belah pada umumnya diawali dengan pengukuran dan penentuan elevasi. Setelah penggalian selesai, dasar saluran harus dipadatkan dan dalam beberapa spesifikasi pekerjaan diberikan lapisan pasir alas sebagai media perata.

Selanjutnya dilakukan pemasangan batu tanam atau batu pengunci pada bagian dasar sebagai pondasi awal pasangan. Batu belah kemudian disusun secara bertahap menggunakan batu berukuran sesuai spesifikasi, sementara setiap rongga wajib terisi mortar agar terbentuk struktur yang kokoh dan mampu menahan tekanan tanah maupun aliran air.

Tahapan tersebut menjadi bagian penting karena drainase berfungsi mengendalikan aliran air yang dapat mempengaruhi stabilitas badan jalan. Apabila pelaksanaan tidak sesuai ketentuan teknis, berbagai risiko dapat muncul, mulai dari retak pada pasangan, pergeseran batu, rembesan air, sedimentasi saluran, hingga penurunan fungsi drainase dalam jangka panjang.

Gambar Tahapan kegiatan drainase,  Kamis. (AKTANOW.pro).

Kerusakan drainase juga berpotensi memicu pengikisan tanah di sekitar konstruksi dan mempercepat kerusakan badan jalan yang berada di sekitarnya. Kondisi tersebut tentunya dapat mengurangi umur layanan infrastruktur yang dibangun menggunakan anggaran negara.

Selain itu, sejumlah pihak di sekitar lokasi pekerjaan turut mempertanyakan mutu adukan mortar yang digunakan. Namun demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena memerlukan pengujian laboratorium dan pemeriksaan teknis lebih lanjut untuk mengetahui kesesuaian campuran material dengan spesifikasi kontrak.

Sesuai prinsip keberimbangan dan Kode Etik Jurnalistik, media ini menegaskan bahwa hasil pemantauan lapangan ini merupakan temuan awal yang masih memerlukan klarifikasi dari pihak pelaksana pekerjaan, konsultan pengawas, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), maupun Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Lampung.

Hingga berita ini diterbitkan, pekerjaan masih berlangsung. Jurnalos media ini akan terus melakukan penelusuran dan berupaya memperoleh tanggapan resmi dari pihak-pihak terkait guna memastikan pelaksanaan proyek senilai hampir Rp24 miliar tersebut benar-benar dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, tepat mutu, tepat volume, serta memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Laporan Tim. 

Editor: (redaksi).