Mengungkap Sejarah Lima Keratuan Lampung Bersejarah
LAMPUNG, FaktaNow.pro – Provinsi Lampung dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan adat, budaya, dan sejarah yang masih terjaga hingga saat ini. Di balik keberagaman budaya masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai, terdapat sejarah panjang mengenai terbentuknya lima keratuan yang menjadi fondasi pemerintahan adat masyarakat Lampung sejak berabad-abad silam.
Riwayat mengenai lima keratuan tersebut masih menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah masyarakat adat Lampung. Sejumlah penelitian, literatur sejarah, serta tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa pusat awal perkembangan adat Lampung berasal dari kawasan Sekala Brak yang berada di sekitar Gunung Pesagi, Kabupaten Lampung Barat.
Gunung Pesagi sendiri dikenal sebagai gunung tertinggi di Provinsi Lampung dengan ketinggian sekitar 2.262 meter di atas permukaan laut. Selain memiliki keindahan alam yang memikat, kawasan ini dipercaya sebagai pusat peradaban awal masyarakat adat Lampung sebelum berkembang ke berbagai wilayah di pesisir maupun pedalaman.
Menurut berbagai sumber sejarah dan kajian budaya Lampung, empat keratuan pertama memiliki hubungan erat dengan kawasan Sekala Brak. Keempatnya meliputi Keratuan Ratu di Puncak, Keratuan Ratu di Pugung, Keratuan Ratu di Belalau, serta Keratuan Ratu di Pemanggilan. Kemudian, sekitar abad ke-16 berkembang satu keratuan lainnya yang dikenal sebagai Keratuan Ratu Darah Putih.
Keberadaan lima keratuan tersebut tidak hanya dipandang sebagai sistem kepemimpinan tradisional, tetapi juga menjadi simbol penyebaran masyarakat adat Lampung ke berbagai wilayah.
Sejarah Lampung tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Sekala Brak. Dalam berbagai catatan sejarah, wilayah ini diyakini telah dihuni masyarakat sejak ratusan tahun lalu dan berkembang menjadi pusat pemerintahan adat.
Dari kawasan pegunungan tersebut, masyarakat secara bertahap melakukan perpindahan menuju daerah yang lebih luas melalui jalur sungai. Sungai Way Besai, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung, hingga Way Tulang Bawang menjadi jalur penting penyebaran masyarakat menuju wilayah pesisir maupun pedalaman.
Perpindahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pertumbuhan penduduk, perkembangan perdagangan, hingga kebutuhan membuka lahan pertanian baru.
Dalam proses itulah sistem pemerintahan adat berkembang menjadi beberapa keratuan yang masing-masing memiliki wilayah, pemimpin, serta aturan adat yang berbeda.
Keberadaan lima keratuan menjadi tonggak penting dalam sejarah pemerintahan adat Lampung.
1. Keratuan Ratu di Puncak
Keratuan ini dipercaya sebagai salah satu pusat pemerintahan adat tertua di kawasan Sekala Brak. Wilayahnya berada di daerah pegunungan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat adat pada masa awal.
Keratuan Ratu di Puncak dikenal memiliki peranan besar dalam menjaga nilai-nilai adat, hukum adat, serta tata kehidupan masyarakat.
2. Keratuan Ratu di Pugung
Keratuan ini berkembang sebagai salah satu pusat pemerintahan adat yang memiliki hubungan erat dengan wilayah bagian selatan Lampung.
Dalam perkembangannya, masyarakat dari keratuan ini menyebar ke berbagai daerah melalui jalur perdagangan dan pertanian.
3. Keratuan Ratu di Belalau
Belalau merupakan salah satu kawasan yang hingga kini masih dikenal sebagai wilayah adat masyarakat Lampung Barat.
Keratuan Ratu di Belalau berperan penting dalam menjaga kesinambungan budaya, adat istiadat, serta hubungan kekerabatan masyarakat.
4. Keratuan Ratu di Pemanggilan
Keratuan ini menjadi bagian penting dalam struktur pemerintahan adat Lampung.
Sejumlah keturunan masyarakat adat dari wilayah ini kemudian berkembang menuju berbagai daerah di Provinsi Lampung.
5. Keratuan Ratu Darah Putih
Keratuan Ratu Darah Putih diperkirakan mulai berkembang sekitar abad ke-16.
Dalam berbagai literatur sejarah, keratuan ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat adat Lampung di wilayah pesisir dan dataran rendah.
Setiap keratuan mempunyai struktur kepemimpinan adat yang berbeda sesuai wilayahnya.
Masing-masing dipimpin oleh pemimpin adat yang memiliki tanggung jawab menjaga hukum adat, menyelesaikan persoalan masyarakat, melestarikan tradisi, hingga mengatur hubungan antarkeratuan.
Selain itu, sistem kekerabatan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Lampung. Nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan terhadap tetua adat, serta menjaga keharmonisan menjadi prinsip utama yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seiring berkembangnya zaman, masyarakat Lampung mulai bermigrasi ke berbagai wilayah. Penyebaran tersebut berlangsung melalui jalur sungai yang menjadi sarana transportasi utama pada masa lalu.
Dari daerah pegunungan, masyarakat kemudian menetap di wilayah pesisir barat, pesisir timur, hingga pedalaman.
Perkembangan tersebut kemudian membentuk berbagai komunitas adat yang tetap mempertahankan hubungan kekerabatan berdasarkan asal keratuan masing-masing.
Hingga kini Gunung Pesagi masih dipandang sebagai simbol penting sejarah masyarakat Lampung. Selain memiliki nilai ekologis yang tinggi, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat adat.
Tidak sedikit kegiatan adat maupun penelitian sejarah yang masih dilakukan di sekitar kawasan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur Lampung.
Banyak akademisi menilai bahwa pelestarian kawasan Gunung Pesagi memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan sejarah sekaligus warisan budaya bangsa.
Budaya Lampung merupakan aset bangsa yang harus dijaga bersama.
Perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta arus globalisasi menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan nilai-nilai adat.
Karena itu, berbagai kalangan mendorong agar pendidikan mengenai sejarah Lampung terus diperkuat, baik melalui sekolah, perguruan tinggi, komunitas budaya, maupun media massa.
Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui upacara adat, tetapi juga melalui dokumentasi sejarah, penelitian ilmiah, digitalisasi naskah kuno, hingga promosi wisata budaya.
Generasi muda memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Lampung.
Pemanfaatan media digital dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan sejarah lima keratuan kepada masyarakat luas.
Melalui konten edukatif, diskusi budaya, dokumentasi tradisi, serta penelitian sejarah, generasi muda dapat berkontribusi dalam melestarikan identitas daerah tanpa meninggalkan perkembangan zaman.
Selain itu, keterlibatan kaum muda dalam kegiatan adat, festival budaya, seminar sejarah, hingga pelestarian bahasa Lampung menjadi langkah konkret menjaga warisan leluhur.
Keberadaan kawasan Sekala Brak dan Gunung Pesagi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Wisatawan tidak hanya dapat menikmati panorama alam pegunungan, tetapi juga mempelajari perjalanan panjang terbentuknya masyarakat adat Lampung.
Pengembangan wisata berbasis budaya dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat sekaligus memperkuat pelestarian nilai-nilai tradisi.
Namun demikian, pengembangan kawasan wisata tetap perlu memperhatikan kelestarian lingkungan dan menghormati nilai-nilai sakral yang dijaga oleh masyarakat adat.
Sejarah lima keratuan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Lampung. Warisan tersebut bukan hanya menceritakan asal-usul sebuah daerah, tetapi juga menggambarkan bagaimana nilai persatuan, musyawarah, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat selama berabad-abad.
Pelestarian sejarah dan budaya membutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga adat, akademisi, hingga masyarakat. Dengan menjaga warisan budaya secara bersama-sama, generasi mendatang dapat terus mengenal akar sejarahnya sekaligus memperkuat jati diri bangsa di tengah perkembangan global.
Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi sejarah yang beredar dalam literatur, tradisi lisan masyarakat adat Lampung, dan materi publikasi budaya. Sejumlah aspek mengenai asal-usul serta perkembangan lima keratuan memiliki beragam versi dalam kajian akademik dan tradisi adat. Oleh karena itu, informasi ini disajikan sebagai materi edukatif dengan tetap menghormati berbagai perspektif sejarah yang berkembang.
Penulis: (Iskandar)