@import url('https://fonts.googleapis.com/css2?family=Montserrat:wght@400;700&display=swap'); body { font-family: 'Montserrat', Arial, sans-serif; } 🌐 🌐
.@import url('https://fonts.googleapis.com/css2?family=Nunito+Sans:wght@400;700&display=swap'); h1, h2, h3, h4, h5, h6 { font-family: 'Nunito Sans', Arial, sans-serif; } /* PAKSA SEMUA JUDUL RELATED POST JADI HITAM */ .related-posts a, .related-posts a:link, .related-posts a:visited, .related-posts h3 a, .related-posts h4 a, .related-posts .title a, .related-posts .post-title a, .related-posts .related-title a{ color:#000000 !important; text-decoration:none !important; } /* Saat disentuh atau hover tetap hitam */ .related-posts a:hover, .related-posts a:active{ color:#000000 !important; }

Perimenopause Bukan Hambatan Produktivitas Perempuan Modern

Narasumber seminar Primaya Hospital mengedukasi perempuan memahami perimenopause demi menjaga kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraan optimal.

JAKARTA, FaktaNow.pro – Kesadaran mengenai pentingnya kesehatan perempuan, khususnya pada fase perimenopause, terus menjadi perhatian berbagai kalangan. Melalui seminar edukatif yang menghadirkan dokter spesialis dan praktisi kesehatan, masyarakat diajak memahami bahwa perimenopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan yang dapat dikelola dengan baik melalui pola hidup sehat, dukungan keluarga, serta pendampingan tenaga medis.

Seminar yang digelar oleh Primaya Hospital tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perimenopause yang masih sering disalahartikan sebagai penyakit. Padahal, menurut para narasumber, perimenopause merupakan masa transisi sebelum menopause yang ditandai dengan perubahan hormon dan dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis perempuan.

Dalam sesi pemaparan, para ahli menjelaskan bahwa perubahan hormon selama perimenopause dapat memunculkan berbagai gejala, seperti gangguan tidur, rasa lelah, penurunan konsentrasi (brain fog), perubahan suasana hati, hingga berkurangnya kepadatan tulang dan kekuatan otot. Namun, gejala tersebut tidak selalu dialami dengan tingkat keparahan yang sama oleh setiap perempuan.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Primaya Hospital menekankan pentingnya aktivitas fisik sebagai salah satu cara efektif menjaga kesehatan selama memasuki masa perimenopause. Menurutnya, olahraga yang dilakukan secara rutin dan bertahap mampu membantu mempertahankan massa otot, meningkatkan kesehatan tulang, menjaga keseimbangan tubuh, serta mengurangi berbagai keluhan yang muncul akibat perubahan hormon.

Ia menjelaskan bahwa latihan fisik tidak harus dilakukan dengan intensitas tinggi. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, latihan kekuatan otot, hingga peregangan secara konsisten sudah memberikan manfaat besar bagi kesehatan perempuan pada masa transisi menuju menopause.

Selain menjaga kebugaran tubuh, olahraga juga dinilai mampu membantu meningkatkan kualitas tidur, mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan menjaga kesehatan jantung yang menjadi salah satu aspek penting selama memasuki usia pertengahan.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc., menjelaskan bahwa perubahan emosional merupakan salah satu tantangan yang sering dialami perempuan selama perimenopause. Kondisi tersebut bukan muncul tanpa alasan, melainkan dipengaruhi oleh perubahan hormon yang terjadi secara alami di dalam tubuh.

Dr. dr. Luciana B. Sutanto, M.S., Sp.GK, Subsp.P.K., dokter spesialis gizi klinik, memaparkan pentingnya pengaturan gizi pada masa perimenopause

Menurut dr. Leonita, fase Dr. dr. Luciana B. Sutanto, M.S., Sp.GK, Subsp.P.K., dokter spesialis gizi klinik, memaparkan pentingnya pengaturan gizi pada masa perimenopauseini sering kali berlangsung bersamaan dengan berbagai perubahan dalam kehidupan, seperti meningkatnya tanggung jawab pekerjaan, anak-anak yang mulai mandiri, orang tua yang memasuki usia lanjut, hingga perubahan hubungan sosial maupun keluarga.

"Perimenopause bukan membuat perempuan menjadi lebih sensitif tanpa sebab. Perubahan suasana hati yang dialami merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering kali terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup," ujar dr. Leonita dalam seminar tersebut.

Ia mengimbau perempuan agar tidak menyalahkan diri sendiri ketika mengalami perubahan emosi, melainkan mulai memahami bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari proses biologis yang normal.

Untuk membantu mengelola stres, dr. Leonita memperkenalkan metode STOP, yaitu Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi apa yang sedang dirasakan, kemudian Pilih respons yang paling membantu. Menurutnya, teknik sederhana tersebut dapat membantu seseorang lebih tenang dalam menghadapi tekanan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan bahwa apabila gejala emosional maupun fisik mulai mengganggu aktivitas harian, kualitas tidur, hubungan sosial, ataupun produktivitas kerja, perempuan disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional agar memperoleh penanganan yang tepat.

"Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit," tegasnya.

Sementara itu, Chief Operating Officer sekaligus Co-Founder Blibli, Lisa Widodo, mengajak perempuan untuk mengubah cara pandang terhadap perimenopause. Menurutnya, fase tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai akhir dari produktivitas ataupun pencapaian perempuan.

Lisa menilai bahwa pemahaman yang benar mengenai perubahan biologis akan membantu perempuan beradaptasi dengan kondisi tubuh tanpa kehilangan rasa percaya diri.

Ia mengatakan bahwa perubahan fokus, suasana hati, maupun brain fog merupakan bagian dari proses alami yang dapat dikelola apabila seseorang memahami penyebabnya dan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar.

"Perimenopause bukan akhir dari produktivitas perempuan. Ketika kita memahami bahwa perubahan fokus, suasana hati, atau brain fog merupakan bagian dari proses biologis yang dapat dikelola, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai beradaptasi," ujar Lisa.

Menurutnya, perempuan tetap memiliki kesempatan untuk terus berkarya, memimpin organisasi, membangun karier, maupun menjalankan peran di dalam keluarga selama memperoleh dukungan yang memadai.

Lisa menambahkan bahwa lingkungan kerja juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang lebih inklusif bagi perempuan yang sedang menjalani fase perimenopause. Pemahaman dari rekan kerja maupun atasan dapat membantu perempuan tetap produktif tanpa merasa terbebani oleh perubahan yang sedang dialami.

Primaya Hospital melalui seminar tersebut berharap semakin banyak perempuan berani membicarakan perimenopause secara terbuka. Selama ini, masih banyak perempuan yang menganggap perubahan fisik maupun emosional sebagai sesuatu yang harus dipendam sehingga tidak memperoleh informasi maupun pendampingan medis yang sesuai.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan mampu mengenali tanda-tanda perimenopause sejak dini, memahami bahwa setiap perempuan memiliki pengalaman yang berbeda, serta mengetahui kapan harus mencari bantuan tenaga kesehatan.

Para narasumber juga mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup selama masa perimenopause. Selain rutin berolahraga, perempuan dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan protein, kalsium, vitamin D, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, membatasi konsumsi alkohol, serta memastikan waktu istirahat yang cukup.

Dukungan pasangan, keluarga, sahabat, dan lingkungan kerja juga dinilai menjadi faktor penting dalam membantu perempuan melewati masa transisi tersebut dengan lebih nyaman dan percaya diri.

Melalui penyelenggaraan seminar edukasi ini, Primaya Hospital berharap stigma terhadap perimenopause dapat berkurang sehingga perempuan tidak lagi merasa takut ataupun malu membicarakan perubahan yang dialami. Dengan pemahaman yang lebih baik, deteksi dini, gaya hidup sehat, serta akses terhadap layanan kesehatan yang tepat, perempuan diharapkan mampu menjalani fase perimenopause secara sehat, aktif, produktif, dan tetap memiliki kualitas hidup yang optimal.

Penulis: (Iskandar)