BRIN Kaji Kosmologi Ekologis Batak Toba
SIMALUBGUN, FAKTSNOW.pro - Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian lapangan di Huta Lumban Ambarita, Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Penelitian yang berlangsung selama 10 hari, mulai 20 hingga 29 Agustus 2026, tersebut mengkaji hubungan antara kosmologi, lingkungan, dan sastra lisan masyarakat adat Batak Toba.
Penelitian bertajuk “Kosmologi Ekologis Batak Toba: Kajian Etnografi dan Ekosastra terhadap Sastra Lisan Masyarakat Adat Lumban Ambarita” itu merupakan bagian dari skema hibah riset BRIN. Kajian tersebut diarahkan untuk mendokumentasikan sekaligus menganalisis pengetahuan, pandangan hidup, serta tradisi lisan masyarakat adat yang berkaitan erat dengan hubungan manusia, alam, dan leluhur.
Tim peneliti dipimpin Yeni Yulianti, S.S. M.A., dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN. Ia didampingi Erwin Syahputra Kembaren, S.S. M.Hum., dan Natal P. Sitanggang, S.S. M. Hum., yang juga berasal dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN.
Selain peneliti BRIN, kegiatan tersebut melibatkan kolaborator dari perguruan tinggi, yakni, Dr. Kristiawan Indriyanto, S.S., M.Hum., dari Universitas Prima Indonesia serta Desri Maria Sumbayak, S.S., M.Hum., TESOL, dari Universitas Sumatera Utara.
Lokasi penelitian dipilih karena Huta Lumban Ambarita merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat adat Sihaporas. Komunitas masyarakat adat Sihaporas merupakan bagian dari masyarakat Batak Toba yang berada di Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.
Dalam sejarah lisan masyarakat setempat, perjalanan leluhur mereka berkaitan dengan sosok Ompu Mamontang Laut Ambarita yang disebut menyeberangi Danau Toba dari Pulau Samosir sekitar tahun 1800-an. Sejarah tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat adat Sihaporas.
Huta Lumban Ambarita juga menjadi ruang penting bagi keberlangsungan kebudayaan masyarakat. Berbagai praktik adat, ritual, tuturan, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi masih menjadi bagian dari kehidupan komunitas.
Salah satu narasumber kunci dalam penelitian ini adalah Tetua Adat Opung Moris Ambarita. Ia memiliki peran dalam menjaga dan meneruskan pengetahuan adat, termasuk ritual Partukkoan yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur penjaga kampung.
Ritual Partukkoan disebut telah diwariskan dari Ompu Mamontang Laut Ambarita secara turun-temurun hingga mencapai 11 generasi di Sihaporas. Selain itu, Opung Moris Ambarita juga berperan dalam menjaga pelaksanaan berbagai ritual adat yang memiliki waktu serta tujuan berbeda.
Bagi masyarakat adat Sihaporas, keberadaan ritual dan sastra lisan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan seremonial. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai hubungan manusia dengan lingkungan, leluhur, ruang hidup, serta nilai-nilai yang diwariskan melalui tuturan antargenerasi.
Karena itu, penelitian BRIN menggunakan pendekatan etnografi dan ekosastra. Pendekatan etnografi digunakan untuk memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat berdasarkan pengamatan serta informasi yang diperoleh dari komunitas. Sementara itu, pendekatan ekosastra digunakan untuk melihat keterkaitan karya atau tradisi sastra dengan lingkungan dan cara manusia memandang alam.
Objek yang didokumentasikan dalam penelitian antara lain umpasa, tuturan ritual, serta narasi kosmologis yang hidup dalam masyarakat adat. Berbagai bentuk sastra lisan tersebut menjadi sumber penting untuk memahami pandangan dunia Batak Toba, terutama mengenai relasi antara manusia, alam, dan leluhur.
Penelitian ini juga memiliki arti penting dalam upaya pendokumentasian budaya lokal. Tradisi lisan pada dasarnya diwariskan melalui proses komunikasi antargenerasi sehingga keberlangsungannya sangat bergantung pada keberadaan penutur dan lingkungan sosial yang mendukungnya.
Perubahan sosial dan lingkungan yang berlangsung cepat dapat memengaruhi keberadaan tradisi tersebut. Dokumentasi melalui penelitian ilmiah diharapkan dapat membantu merekam pengetahuan dan sastra lisan masyarakat sebelum mengalami perubahan atau semakin jarang diwariskan.
Melalui penelitian lapangan di Lumban Ambarita, tim BRIN berupaya memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kosmologi ekologis masyarakat Batak Toba di Sihaporas. Penelitian tidak hanya melihat sastra lisan sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan masyarakat mengenai kehidupan, lingkungan, sejarah, dan hubungan dengan leluhur.
Kajian tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya masyarakat adat sebagai sumber pengetahuan kebudayaan. Pengalaman, ingatan kolektif, ritual, dan sastra lisan yang diwariskan masyarakat menjadi bagian dari kekayaan budaya yang memiliki nilai akademik sekaligus sosial.
Dengan pendekatan penelitian yang melibatkan masyarakat dan narasumber adat, kajian BRIN diharapkan dapat memperkuat dokumentasi mengenai kebudayaan Batak Toba, khususnya tradisi masyarakat adat Sihaporas. Hasil penelitian nantinya dapat menjadi bahan pengembangan kajian bahasa, sastra, kebudayaan, antropologi, serta hubungan manusia dengan lingkungan.
Penelitian yang berlangsung hingga 29 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya memahami kekayaan pengetahuan lokal melalui pendekatan ilmiah. Lumban Ambarita dan masyarakat adat Sihaporas menjadi ruang penting untuk melihat bagaimana sejarah, sastra lisan, ritual, alam, dan ingatan leluhur terus berhubungan dalam kehidupan masyarakat Batak Toba.
Penulis: (Bastian).
