Jangan Buru Biawak, Sahabat Alami Petani
LAMONGAN, FAKTANOW.pro - Keberadaan biawak di sekitar kawasan persawahan dan lahan pertanian dinilai memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Hewan reptil tersebut diketahui termasuk salah satu predator yang dapat memangsa berbagai jenis hewan, termasuk tikus yang selama ini menjadi salah satu hama bagi tanaman pertanian.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak sembarangan menangkap atau memburu biawak yang ditemukan di lingkungan persawahan maupun kawasan pertanian. Keberadaan predator alami tersebut dinilai dapat menjadi salah satu bagian dari keseimbangan ekosistem yang mendukung keberlangsungan pertanian.
Biawak pada dasarnya bukan hanya dipandang sebagai hewan liar yang berada di sekitar permukiman atau persawahan. Dalam rantai makanan, keberadaan predator memiliki fungsi ekologis. Jika jumlah predator alami berkurang, keseimbangan populasi satwa lain berpotensi mengalami perubahan.
Tikus sendiri merupakan salah satu hewan yang kerap menjadi persoalan bagi petani. Pada lahan persawahan, keberadaan tikus dapat menyebabkan kerusakan tanaman, terutama ketika populasinya meningkat. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap hasil produksi dan menambah biaya yang harus dikeluarkan petani untuk melakukan pengendalian hama.
Iswanto, seorang jurnalis sekaligus pemerhati lingkungan dan pecinta reptil di wilayah Kabupaten Lamongan, mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan biawak sebagai sasaran perburuan.
Menurut Iswanto, biawak memiliki fungsi ekologis yang perlu diperhatikan masyarakat. Ia menilai keberadaan satwa liar tersebut sebaiknya tidak semata-mata dilihat dari nilai ekonominya, tetapi juga dari perannya dalam lingkungan.
“Jangan memburu, menangkap, maupun menjual biawak secara sembarangan. Hewan ini memiliki peran dalam ekosistem dan dapat memangsa berbagai hewan, termasuk tikus. Kalau predator alami semakin berkurang, keseimbangan ekosistem juga dapat terganggu,” ujar Iswanto.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan terhadap satwa liar hanya demi mendapatkan keuntungan sesaat. Menurutnya, perburuan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kelestarian satwa dapat memberikan dampak terhadap lingkungan apabila berlangsung terus-menerus.
“Jangan sampai kita hanya melihat nilai jualnya, tetapi melupakan fungsi ekologisnya. Biawak merupakan bagian dari alam yang perlu dijaga keberadaannya,” katanya.
Persoalan pengendalian hama tikus sendiri tidak hanya bergantung pada keberadaan predator alami. Petani tetap membutuhkan berbagai metode pengendalian yang sesuai dengan kondisi lahan, termasuk penerapan pengelolaan hama terpadu dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar persawahan.
Keberadaan predator alami dapat menjadi salah satu unsur pendukung dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, pelestarian satwa liar perlu dilakukan secara bijaksana dengan tetap memperhatikan keselamatan manusia serta kondisi lingkungan.
Masyarakat yang menemukan biawak di sekitar persawahan juga diharapkan tidak langsung melakukan perburuan. Apabila keberadaannya mengganggu atau menimbulkan risiko bagi manusia, penanganannya sebaiknya dilakukan secara aman dan tidak membahayakan satwa maupun warga.
Upaya menjaga keberadaan biawak juga menjadi bagian dari kepedulian terhadap lingkungan. Satwa liar memiliki fungsi masing-masing dalam rantai ekosistem, sehingga keberadaannya perlu dipertimbangkan sebelum dilakukan tindakan penangkapan atau pemburuan.
Iswanto berharap masyarakat, khususnya di wilayah pertanian, dapat memahami bahwa menjaga keseimbangan alam juga berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan petani.
“Menjaga satwa liar berarti ikut menjaga keseimbangan alam. Jangan sampai keuntungan sesaat justru menimbulkan persoalan lingkungan di kemudian hari,” pungkasnya.
Imbauan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan perburuan satwa secara sembarangan serta ikut menjaga keberadaan predator alami di lingkungan pertanian.
Dengan ekosistem yang tetap terjaga, masyarakat dan petani diharapkan dapat memperoleh manfaat lingkungan yang berkelanjutan tanpa harus mengorbankan keberadaan satwa liar.
Penulis: (Iswanto)
