Gas 3 Kg Langka, Warga Mengeluh: Antre Panjang, Harga Melonjak
Pacitan, FaktaNow.pro — Kelangkaan gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram dikeluhkan masyarakat dalam sepekan terakhir. Sejumlah warga, khususnya ibu rumah tangga, mengaku kesulitan mendapatkan gas untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Kondisi ini turut memicu antrean panjang di sejumlah pangkalan hingga pengecer.
Informasi tersebut mencuat dari unggahan akun media sosial Threads milik akun jtvpacitan yang diunggah sekitar dua jam sebelum tangkapan layar beredar luas. Dalam unggahan itu disebutkan, “Sudah sepekan terakhir ibu-ibu ini mengaku sulit mendapatkan gas LPG 3 Kg. Bahkan sejumlah diantaranya terpaksa tidak memasak.”
Unggahan tersebut juga menjelaskan bahwa harga gas LPG 3 kilogram di tingkat pangkalan masih berada di kisaran Rp18 ribu. Namun, di tingkat pengecer, harga mengalami kenaikan signifikan. “Sementara harga gas LPG 3 Kg di tingkat pangkalan masih sekitar Rp 18 ribu, namun demikian di tingkat pengecer harga tersebut melambung Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu, itu pun sulit untuk mendapatkannya,” tulis akun tersebut.
Dalam unggahan yang sama, akun tersebut juga mengajak masyarakat untuk berbagi kondisi serupa di daerah masing-masing dengan menuliskan, “Bagaimana di tempatmu lur?”
Berdasarkan gambar yang turut dibagikan, terlihat sejumlah warga mengantre panjang sambil membawa tabung gas 3 kilogram. Antrean tersebut didominasi oleh ibu-ibu, namun juga tampak beberapa pria yang ikut menunggu giliran. Wajah-wajah lelah terlihat dari warga yang harus berdesakan di bawah terik matahari demi mendapatkan gas bersubsidi tersebut.
Seorang warga yang tampak dalam antrean mengaku sudah beberapa kali mencoba mencari gas di sejumlah tempat, namun kerap kehabisan. “Sudah muter ke beberapa pangkalan, tapi kosong terus. Kalau pun ada, harus antre lama,” ujar salah satu warga dalam keterangan visual yang beredar.
Kelangkaan ini berdampak langsung terhadap aktivitas rumah tangga masyarakat. Sejumlah ibu rumah tangga mengaku terpaksa mengurangi aktivitas memasak, bahkan ada yang memilih membeli makanan jadi karena tidak memiliki bahan bakar untuk memasak.
“Biasanya masak setiap hari, sekarang jadi jarang. Kalau tidak ada gas, ya mau tidak mau beli di luar,” kata seorang ibu rumah tangga yang ikut mengantre.
Fenomena kelangkaan gas LPG 3 kilogram ini bukan pertama kali terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi serupa kerap muncul, terutama menjelang momen tertentu atau ketika distribusi mengalami kendala. Namun demikian, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti kelangkaan yang terjadi di wilayah tersebut.
Di sisi lain, kenaikan harga di tingkat pengecer juga menjadi sorotan masyarakat. Meski harga resmi di pangkalan masih relatif stabil, perbedaan harga yang cukup jauh di pengecer menimbulkan beban tambahan bagi warga, khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah yang menjadi sasaran utama subsidi LPG 3 kilogram.
Pengamat ekonomi lokal menilai bahwa selisih harga tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh distribusi yang tidak merata serta tingginya permintaan di tengah pasokan yang terbatas. Kondisi ini membuka peluang bagi oknum tertentu untuk mengambil keuntungan dengan menaikkan harga di luar ketentuan.
“Kalau distribusi tidak lancar, pasti akan terjadi permainan harga di lapangan. Ini yang perlu diawasi,” ujar seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Selain memastikan pasokan tetap tersedia, pengawasan terhadap harga di tingkat pengecer juga dinilai perlu diperketat agar tidak merugikan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari instansi terkait mengenai kondisi kelangkaan LPG 3 kilogram di wilayah Pacitan. Namun, masyarakat berharap situasi ini segera membaik agar aktivitas rumah tangga dapat kembali berjalan normal.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan distribusi energi bersubsidi yang tepat sasaran dan merata. Tanpa pengawasan yang ketat, potensi kelangkaan dan lonjakan harga akan terus berulang dan membebani masyarakat kecil.
Penulis: (iskandar).
