Lebaran Berujung Tangis: Suami Mengamuk, Bayi Delapan Bulan Trauma Saksikan Pertengkaran Hebat Orang Tua
Lampung, FaktaNow.pro - Suasana Hari Raya Idul Fitri yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan keluarga justru berubah menjadi peristiwa memilukan bagi seorang perempuan yang mengunggah kisahnya melalui akun media sosial Andikap361. Dalam unggahan tersebut, ia menceritakan bagaimana momen Lebaran di rumahnya berakhir dengan pertengkaran hebat antara dirinya dan sang suami, yang berujung pada tindakan perusakan barang hingga membahayakan keselamatan dirinya dan sang bayi.
Perempuan tersebut mengungkapkan bahwa pertengkaran terjadi secara tiba-tiba dan memuncak dengan emosi yang tidak terkendali dari pihak suami. Dalam kondisi tersebut, sang suami disebut membuang berbagai hidangan Lebaran, termasuk kue-kue yang telah disiapkan serta lauk gulai yang menjadi bagian dari sajian hari raya. Tidak hanya itu, sejumlah toples kaca juga dipecahkan hingga serpihannya berserakan di lantai.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka pada bagian kaki karena terkena pecahan kaca. Namun, menurut pengakuannya, luka fisik bukanlah hal yang paling menyakitkan baginya. Ia justru merasa terpukul secara emosional melihat bayi mereka yang baru berusia delapan bulan menjadi saksi langsung dari pertengkaran tersebut.
Dalam unggahannya, ia menggambarkan bagaimana sang bayi yang berada dalam gendongannya terlihat ketakutan dan menangis histeris saat menyaksikan situasi penuh ketegangan itu. Tangisan bayi tersebut, menurutnya, menjadi momen paling menyayat hati yang tidak akan mudah dilupakan.
“Yang paling bikin sedih bukan luka di kaki, tapi bayi saya ketakutan lihat kami bertengkar,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Perempuan itu juga mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya bukan tidak berani menghadapi atau melawan suaminya. Namun, dalam situasi tersebut ia memilih untuk menahan diri karena sedang menggendong bayi mereka. Ia khawatir tindakan balasan atau perlawanan justru akan memperburuk keadaan dan membahayakan keselamatan anaknya.
Lebih lanjut, ia mengaku mulai mempertanyakan keputusan hidupnya, termasuk penyesalan atas pernikahan yang dijalaninya. Ia menilai bahwa suaminya memiliki kebiasaan meluapkan emosi dengan cara merusak barang setiap kali keinginannya tidak dituruti. Pola perilaku tersebut, menurutnya, bukanlah hal baru, melainkan sudah berulang terjadi.
Kisah yang diunggah tersebut pun menuai perhatian dari warganet. Banyak yang menyampaikan empati dan dukungan moral kepada korban, serta mendorongnya untuk mengutamakan keselamatan diri dan anak. Tidak sedikit pula yang menyarankan agar korban mencari bantuan dari pihak keluarga, tokoh masyarakat, maupun lembaga terkait yang menangani kekerasan dalam rumah tangga.
Sejumlah warganet menilai bahwa tindakan merusak barang dalam kondisi emosi yang tidak terkendali merupakan bentuk kekerasan yang tidak bisa dianggap sepele. Selain berdampak secara fisik, perilaku tersebut juga dinilai berpotensi menimbulkan trauma psikologis, terutama bagi anak yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Dalam perspektif psikologi, anak usia bayi meskipun belum mampu memahami situasi secara utuh, tetap dapat merasakan tekanan emosional dari lingkungan sekitarnya. Suara keras, teriakan, serta ekspresi kemarahan orang tua dapat memicu rasa takut dan ketidaknyamanan yang berdampak pada perkembangan emosional anak.
Sementara itu, dari sisi hukum, tindakan kekerasan dalam rumah tangga, baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik seperti perusakan barang yang membahayakan, dapat masuk dalam kategori pelanggaran yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Korban memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan pendampingan jika mengalami situasi tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik dalam rumah tangga, jika tidak dikelola dengan baik, dapat berdampak luas tidak hanya bagi pasangan, tetapi juga bagi anak-anak yang menjadi bagian dari keluarga tersebut. Komunikasi yang sehat, pengendalian emosi, serta saling menghargai menjadi faktor penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Hingga saat ini, belum diketahui tindak lanjut dari kasus yang dialami perempuan tersebut. Namun, unggahannya telah membuka ruang diskusi publik mengenai pentingnya kesadaran akan kesehatan mental, pengendalian emosi, serta perlindungan terhadap perempuan dan anak dalam lingkup keluarga.
Di tengah suasana Lebaran yang identik dengan saling memaafkan dan mempererat silaturahmi, peristiwa ini justru menjadi gambaran bahwa tidak semua keluarga merasakan kebahagiaan yang sama. Diharapkan, kejadian serupa dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap kondisi dalam rumah tangga, serta berani mencari solusi dan bantuan ketika menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan.
Postungan: (iskandar).
