Uang Kuno Ethiopia Diburu Kolektor Indonesia, Nilai Historis Jadi Daya Tarik

Kolektor numismatik Indonesia memburu uang kuno 1 Birr Ethiopia bergambar klasik bernilai sejarah, Kamis (28/05/2036).FaktaNow.pro, Lampung  -  Tren koleksi uang kuno dan barang antik di Indonesia terus mengalami peningkatan. Salah satu yang kini menarik perhatian pecinta numismatik Tanah Air adalah uang kuno pecahan 1 Birr asal Ethiopia yang mulai banyak diburu kolektor karena memiliki desain klasik serta nilai sejarah yang unik.

Berdasarkan penelusuran FaktaNow, uang tersebut merupakan mata uang resmi lama Ethiopia yang diterbitkan oleh National Bank of Ethiopia pada akhir 1990-an. Pecahan 1 Birr itu menampilkan ilustrasi anak laki-laki dan ternak sapi yang mencerminkan kehidupan masyarakat pedesaan Ethiopia.

Pada bagian depan uang terlihat tulisan “ONE BIRR”, nomor seri, serta ornamen khas dengan aksara Amharik yang menjadi ciri budaya negara Afrika Timur tersebut. Desain tradisional itu menjadi salah satu alasan uang kuno Ethiopia diminati para kolektor mata uang asing di Indonesia.

Meski nilai tukarnya saat ini tergolong kecil, uang lama Ethiopia tetap memiliki nilai historis dan estetika tinggi di kalangan penggemar numismatik. Dalam foto yang diterima FaktaNow, kondisi uang terlihat mengalami lipatan dan perubahan warna akibat faktor usia penyimpanan. Namun detail gambar dan tulisan masih cukup jelas sehingga dinilai layak dijadikan koleksi.

Dari berbagai katalog numismatik internasional diketahui bahwa pecahan 1 Birr seri lama sudah tidak lagi digunakan sebagai alat pembayaran resmi di Ethiopia. Pemerintah setempat telah mengganti sebagian pecahan kecil menjadi koin dalam sistem peredaran uang modern.

Jika dikonversikan ke rupiah saat ini, nilai 1 Birr Ethiopia diperkirakan hanya berkisar Rp100 hingga Rp120. Namun di pasar kolektor, harga uang kuno Ethiopia bisa jauh lebih tinggi tergantung kondisi fisik, nomor seri, tingkat kelangkaan, dan tahun edar.

Untuk seri umum, harga jual di komunitas kolektor diperkirakan berada pada kisaran Rp10 ribu hingga Rp50 ribu per lembar. Nilai tersebut dapat meningkat apabila uang memiliki kondisi mulus atau nomor seri unik yang jarang ditemukan.

“Kalau kondisinya masih bagus dan nomor serinya unik biasanya lebih diminati kolektor. Apalagi uang dari negara Afrika cukup jarang ditemukan di pasar lokal,” ujar seorang kolektor uang kuno di Lampung, Selasa malam.

Selembar uang kuno 1 Birr Ethiopia diburu kolektor numismatik Indonesia karena desain klasik dan nilai sejarahnya.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap uang kuno juga dipengaruhi perkembangan media sosial dan komunitas kolektor daring. Banyak pecinta numismatik kini aktif berbagi informasi mengenai sejarah mata uang dunia, harga pasar, hingga teknik perawatan koleksi agar tetap awet dan bernilai tinggi.

Selain menjadi hobi, koleksi mata uang asing juga memiliki nilai edukasi. Melalui uang kuno, masyarakat dapat mengenal sejarah ekonomi, budaya, bahasa, hingga identitas suatu negara. Desain pada uang biasanya menggambarkan aktivitas masyarakat, tokoh nasional, maupun sektor penting dalam kehidupan negara penerbit.

Pada pecahan 1 Birr Ethiopia misalnya, ilustrasi ternak sapi menggambarkan pentingnya sektor peternakan dan pertanian bagi masyarakat Ethiopia. Sementara gambar anak laki-laki mencerminkan semangat generasi muda dalam pembangunan nasional.

Walau sudah tidak berlaku sebagai alat transaksi resmi, uang lama seperti ini tetap menjadi incaran kolektor barang antik dan pecinta sejarah. Bahkan sebagian kolektor rela berburu hingga ke pasar barang antik dan forum jual beli internasional demi mendapatkan seri tertentu yang dianggap langka.

Masyarakat yang memiliki uang asing lawas juga diimbau lebih berhati-hati saat menjual koleksi mereka. Kurangnya informasi mengenai harga pasaran sering dimanfaatkan pihak tertentu untuk membeli barang koleksi dengan nilai jauh di bawah harga sebenarnya.

Fenomena meningkatnya minat terhadap uang kuno menunjukkan bahwa selembar mata uang tidak hanya memiliki nilai nominal, tetapi juga menyimpan perjalanan sejarah, budaya, dan identitas suatu bangsa.

Penulis: (Iskandar)