@import url('https://fonts.googleapis.com/css2?family=Montserrat:wght@400;700&display=swap'); body { font-family: 'Montserrat', Arial, sans-serif; } 🌐 🌐
.@import url('https://fonts.googleapis.com/css2?family=Nunito+Sans:wght@400;700&display=swap'); h1, h2, h3, h4, h5, h6 { font-family: 'Nunito Sans', Arial, sans-serif; } /* PAKSA SEMUA JUDUL RELATED POST JADI HITAM */ .related-posts a, .related-posts a:link, .related-posts a:visited, .related-posts h3 a, .related-posts h4 a, .related-posts .title a, .related-posts .post-title a, .related-posts .related-title a{ color:#000000 !important; text-decoration:none !important; } /* Saat disentuh atau hover tetap hitam */ .related-posts a:hover, .related-posts a:active{ color:#000000 !important; }

Rimung Buloh Desak Sidak RSUD Nasional

Ketua APPI Aceh Utara, Muhammad alias Rimung Buloh, menyampaikan sikap terkait polemik pelayanan RSUD Cut Meutia.
Aaceh Utara, FaktaNow.pro – Polemik terkait pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia, Kabupaten Aceh Utara, kembali menjadi perhatian publik setelah muncul perbedaan keterangan antara pihak manajemen rumah sakit dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (APPI) Aceh Utara, Muhammad alias Rimung Buloh.

Rimung Buloh menyampaikan bantahan terhadap pernyataan Direktur RSUD Cut Meutia, dr. Syarifah Rohaya, Sp.M., yang sebelumnya menyebut adanya dugaan intervensi terhadap pelayanan medis serta gangguan terhadap aktivitas pelayanan di rumah sakit tersebut. Menurut Rimung, tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Dalam keterangannya kepada sejumlah wartawan pada Senin (29/6/2026), Rimung menegaskan bahwa kedatangannya ke RSUD Cut Meutia semata-mata untuk menjenguk seorang rekan yang sedang menjalani perawatan. Ia membantah keras tuduhan yang menyebut dirinya melakukan intervensi terhadap tenaga kesehatan maupun pengaturan fasilitas rawat inap.

"Saya datang sebagai sahabat untuk menjenguk rekan yang sedang sakit. Tidak ada niat ataupun tindakan untuk mencampuri urusan medis maupun kebijakan rumah sakit," ujar Rimung.

Ia menilai bahwa polemik yang berkembang seharusnya difokuskan pada upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, bukan diarahkan menjadi persoalan personal. Menurutnya, perhatian publik terhadap pelayanan rumah sakit merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial yang bertujuan mendorong perbaikan pelayanan kepada masyarakat.

Rimung juga mempertanyakan sikap sebagian pihak yang dinilainya kurang terbuka terhadap kehadiran insan pers dalam melakukan peliputan. Ia berpendapat bahwa keterbukaan informasi merupakan bagian penting dalam menciptakan pelayanan publik yang akuntabel dan transparan.

"Jika pelayanan telah berjalan sesuai standar dan profesional, maka tidak perlu ada kekhawatiran terhadap pengawasan publik maupun peliputan media," katanya.

Lebih lanjut, Rimung mengaku memiliki dokumentasi dan sejumlah informasi yang menurutnya dapat menggambarkan kondisi pelayanan di RSUD Cut Meutia. Namun demikian, ia menyatakan bahwa seluruh data tersebut akan disampaikan melalui mekanisme yang sesuai apabila dibutuhkan oleh pihak berwenang.

Dalam penjelasannya, Rimung memaparkan kronologi kedatangannya ke rumah sakit. Ia mengaku menerima informasi dari seorang rekan sesama mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sedang menjalani perawatan di salah satu ruang rawat inap. Rekannya tersebut, kata Rimung, mengeluhkan kondisi fasilitas ruangan, termasuk pendingin udara yang mengalami kebocoran serta tempat tidur pasien yang belum dilengkapi seprai.

"Saya datang karena merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai sahabat. Saat berada di lokasi, saya melihat adanya beberapa kondisi yang menurut saya perlu mendapat perhatian," ujarnya.

Menurut pengakuannya, ia juga menemukan adanya pasien lain yang disebut telah menjalani perawatan selama beberapa hari tanpa menggunakan seprai. Saat mempertanyakan kondisi tersebut kepada petugas yang bertugas, ia mengaku memperoleh penjelasan bahwa ketersediaan seprai sedang terbatas.

Rimung menegaskan bahwa pertanyaan yang disampaikannya kepada petugas merupakan bentuk kepedulian sebagai masyarakat sekaligus insan pers, bukan upaya untuk mengintervensi pelayanan medis.

"Saya hanya berharap pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih baik. Tidak ada maksud lain selain mendorong perbaikan," katanya.

Atas dasar itu, Rimung meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi secara objektif terhadap pelayanan di RSUD Cut Meutia. Ia berharap Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Dinas Kesehatan Aceh dapat melakukan pemeriksaan langsung guna memastikan standar pelayanan kesehatan berjalan sesuai ketentuan.

Sementara itu, pihak manajemen RSUD Cut Meutia sebelumnya telah menyampaikan klarifikasi terkait insiden tersebut. Hingga berita ini disusun, perbedaan keterangan antara kedua belah pihak masih berlangsung dan diharapkan dapat diselesaikan melalui proses klarifikasi yang transparan, objektif, serta berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penulis: (Redaksi)