Beringin Kembar Bukit Silitonga Simpan Kisah Misteri
PRPRINGSEWU, FAKTANOW.pro -- Bukit Silitonga di Pekon Sukoharjo IV, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, menjadi salah satu kawasan yang menyimpan jejak sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain nilai sejarah tersebut, kawasan ini juga dikenal masyarakat dengan sebutan Bukit Ungkal dan dikaitkan dengan keberadaan kawasan yang disebut Beringin Kembar Bukit Ungkal.
Berdasarkan penelitian sejarah Universitas Lampung, Bukit Ungkal menjadi salah satu titik pertahanan pasukan yang dipimpin Darius Silitonga saat menghadapi Agresi Militer Belanda II pada 1949. Penelitian tersebut menyebut Darius Silitonga menggunakan senjata Kikangho 12,7 mm untuk menghadapi serangan udara Belanda.
Dalam sumber akademik Universitas Lampung juga disebutkan bahwa Bukit Ungkal kemudian dikenal sebagai Bukit Silitonga sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Darius Silitonga. Lokasi tersebut berada di Pekon Sukoharjo IV, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, di sekitar aliran Sungai Way Sekampung.
Informasi mengenai Beringin Kembar juga muncul dalam pemberitaan daring mengenai Bukit Ungkal. Salah satu sumber lokal menyebut kawasan tersebut sebagai “Beringin Kembar Bukit Ungkal” dan mengaitkannya dengan kegiatan masyarakat setempat dalam pengembangan kawasan wisata.
Namun, berdasarkan penelusuran terhadap sejumlah sumber daring, belum ditemukan dokumentasi resmi atau sumber akademik yang dapat memastikan secara independen mengenai usia kedua pohon tersebut, sejarah penanamannya, maupun cerita-cerita mistis yang berkembang di sekitarnya.
Karena itu, cerita mengenai adanya sosok atau “penghuni gaib” di sekitar pohon beringin tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai cerita atau kepercayaan masyarakat, bukan sebagai fakta yang telah terbukti.
Sejumlah sumber sejarah menyebut posisi Bukit Ungkal mempunyai arti strategis. Penelitian Universitas Lampung menjelaskan bahwa bukit tersebut merupakan salah satu titik pertahanan karena berada di tempat yang relatif tinggi sehingga dapat digunakan untuk menghadapi serangan udara.
Sumber lain yang mengutip catatan sejarah menyebut Darius Silitonga bersama pasukannya membuat parit pertahanan atau jinji-jinji/loggraf untuk menempatkan senjata Kikangho. Pertahanan tersebut digunakan untuk menghadapi serangan udara Belanda.
Pemerintah Kabupaten Pringsewu juga pernah mendorong pengembangan Bukit Silitonga sebagai destinasi wisata sejarah. ANTARA melaporkan bahwa kawasan tersebut memiliki potensi wisata berupa bukit dan aliran Sungai Way Sekampung. Dalam pemberitaan tersebut, pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pringsewu menjelaskan kaitan Bukit Silitonga dengan perjuangan Darius Silitonga dan Francois Van der Linde.
Pada 2022, media lokal juga memberitakan kunjungan keluarga Darius Silitonga ke kawasan tersebut. Dalam pemberitaan itu disebutkan bahwa nama Bukit Ungkal kemudian berubah menjadi Bukit Silitonga dan diresmikan pada 10 November 1949.
Keberadaan Bukit Silitonga tidak hanya memiliki nilai sebagai kawasan alam, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan yang tercatat dalam sejumlah sumber sejarah.
Sementara itu, cerita mengenai Beringin Kembar dan berbagai kisah mistis yang berkembang di tengah masyarakat perlu dilihat secara proporsional. Dalam prinsip jurnalistik, informasi yang belum dapat diverifikasi sebaiknya disampaikan sebagai cerita, kepercayaan, atau kesaksian masyarakat, bukan dipastikan sebagai sebuah fakta.
Dengan demikian, daya tarik Bukit Silitonga dapat dilihat dari beberapa sisi, mulai dari sejarah perjuangan kemerdekaan, kondisi alam, hingga cerita masyarakat yang berkembang dari generasi ke generasi.
Keberadaan kisah-kisah tersebut justru dapat menjadi bahan penelusuran lebih lanjut, terutama dengan menggali keterangan dari tokoh masyarakat, pengelola kawasan, keluarga pejuang, pemerintah pekon, serta Dinas terkait untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai sejarah Beringin Kembar dan Bukit Silitonga.
Catatan: Berita ini disusun berdasarkan penelusuran sejumlah sumber daring dan sumber akademik. Klaim mengenai hal-hal gaib tidak disajikan sebagai fakta karena belum ditemukan bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Penulis: (Iskandar).
