Diskusi Film Papua Soroti Literasi Informasi

Peserta nobar dan diskusi Film Pesta Babi berfoto bersama usai kegiatan budaya Papua.
Yogyakarta, FaktaNow.pro -- Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik bertajuk “Film Pesta Babi: Antara Realita dan Agenda Pembangunan” digelar di Goebog Resto, Kompleks Ruko Tandan Raya, Jalan Wonosari KM 1, Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (10/6/2026) malam.

Informasi mengenai kegiatan tersebut diperoleh FaktaNow.pro unggahan yang beredar di grup WhatsApp dan disusun kembali berdasarkan prinsip keberimbangan serta Pedoman Kode Etik Jurnalistik.

Acara yang diinisiasi SHG Advokat bersama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/i Raja Ampat (IPMARAM) itu dihadiri sekitar 80 peserta yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum.

Kegiatan diawali dengan makan malam bersama, dilanjutkan pembukaan oleh panitia dan sambutan dari pendiri SHG Advokat, Setyo Hadi Gunawan. Sebelum pemutaran film dokumenter Pesta Babi, peserta disuguhi penampilan Tarian Pangkur Sagu yang dibawakan anggota IPMARAM sebagai bentuk pelestarian budaya Papua.

Usai pemutaran film yang berlangsung sekitar satu jam, acara dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Dosen Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Pius Rino Pungkiawan, S.Sn., M.Sn., Dekan Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Dr. Ir. Yunianta, M.P., serta tokoh agama asal Papua, Pdt. Beni Dimara. Diskusi dipandu oleh Charlien Tania, S.Psi., mahasiswa Profesi Psikologi Universitas Gadjah Mada sekaligus Miss Papua Barat 2013.

Dalam pengantarnya, Charlien Tania menekankan pentingnya literasi media di tengah derasnya arus informasi digital. Ia mengajak masyarakat untuk membedakan fakta, dugaan, dan opini dengan cara memverifikasi sumber informasi, membandingkan berbagai referensi, serta memanfaatkan platform pemeriksa fakta agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

Sementara itu, Pdt. Beni Dimara mengingatkan pentingnya melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Menurutnya, mahasiswa Papua perlu terus meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui ruang-ruang diskusi yang konstruktif.

“Mahasiswa Papua harus terus belajar, memperluas wawasan, dan mengasah ketajaman berpikir. Diskusi seperti ini menjadi sarana untuk memahami berbagai perspektif yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Ir. Yunianta menyampaikan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai setiap program pembangunan perlu memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Adapun Pius Rino Pungkiawan menjelaskan bahwa film dokumenter tidak hanya berfungsi merekam fakta, tetapi juga memuat perspektif dan interpretasi pembuatnya melalui konstruksi narasi yang disusun secara sinematik.

“Film dokumenter bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan perspektif subjektif pembuatnya melalui cara bercerita yang dirancang secara sinematik,” jelasnya.

Berdasarkan hasil diskusi, para peserta menilai pembangunan di Papua perlu terus dilakukan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pelaksanaannya dinilai perlu dilakukan secara inklusif, partisipatif, serta tetap menghormati hak-hak masyarakat adat dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan.

Peserta juga menekankan pentingnya generasi muda Papua untuk terus menempuh pendidikan, memperluas jaringan pergaulan, serta meningkatkan kapasitas diri agar dapat berkontribusi terhadap pembangunan daerah pada masa mendatang.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penampilan Tarian Yospan (Yosim Pancar) dan pertunjukan vokal dari anggota IPMARAM yang menampilkan kekayaan budaya Papua di hadapan para peserta.

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dalam suasana akademis dan kebudayaan yang menitikberatkan pada pertukaran gagasan mengenai pembangunan, literasi informasi, serta masa depan Papua.

Editor/penulis: (Rolla)